![]() |
Ilustrasi kotak hadiah berwarna pink dengan hati di dalamnya, melambangkan cinta yang tampak manis namun bisa menyimpan bahaya tersembunyi. “Cinta Itu Membunuhmu dan Tak Pernah Menyadarinya.” |
A da sebuah kalimat yang terdengar seperti penyemangat yang disampaikan dengan nada paling lembut dan manis: “Aku mencintaimu.”
Kita tumbuh dengan meyakini bahwa cinta adalah segalanya. Bahwa cinta akan menyelamatkan.
Bahwa cinta adalah rumah tempat kita kembali, dan cinta pula adalah awal dari segalanya yang baik.
Namun, tidak banyak yang berani berkata bahwa cinta bisa membunuhmu.
Bukan dengan pisau atau peluru, tapi dengan cara yang lebih sunyi yaitu membunuh dari dalam.
Ia tidak mencabik tubuhmu, tapi menghancurkan apa yang ada di balik tulang rusuk: mimpi, tekad, dan arah.
Simak juga: Adakah cinta yang terlarang?
Cinta yang Menyamar Sebagai Surga
Cinta datang tak pernah mengetuk. Ia masuk ke dalam hidupmu seperti angin malam yang lembut, membawa harum melati, tapi ternyata menyimpan racun di dalam kelopaknya.
Kita menyambutnya dengan tangan terbuka, seolah itu satu-satunya alasan untuk hidup.
Kita yang awalnya berlari mengejar bintang, mendadak berhenti hanya untuk menatap satu wajah.
Kita yang dulu ingin menaklukkan dunia, mulai lupa pada peta, lupa pada kompas, lupa pada semua arah, kecuali arah menuju dia.
Dan pada momen itulah cinta mulai bekerja. Bukan untuk menghidupkanmu, tapi untuk mengikatmu. Pelan-pelan.
Baca juga; Syarat memperoleh syahid karena cinta
Seseorang yang sangat ambisius bisa mendadak menjadi sosok yang pasrah.
Seorang yang tadinya ingin menyelesaikan studi di luar negeri mendadak menyerahkan paspornya karena takut ‘terlalu jauh’ dari dia.
Seorang yang punya potensi jadi pemimpin justru memilih pekerjaan seadanya asal dekat dengan dia.
Itulah cinta yang membunuhmu.
Jebakan di Balik Kata “Setia”
Kau diajarkan bahwa cinta membutuhkan pengorbanan.
Bahwa mencintai adalah memberi segalanya, tanpa syarat.
Tapi apakah benar harus segalanya?
Kau menyerahkan waktu, energi, impian, dan bahkan jati dirimu atas nama setia.
Kau mulai mengukur langkahmu dengan kemungkinan dia cemburu.
Kau mulai takut bercita-cita terlalu tinggi karena takut meninggalkannya.
Kau mulai memendekkan sayapmu agar tak membuat dia merasa kecil.
Simak juga: Memahami substansi cinta menurut sufi
Begitu banyak orang yang hari ini hidup setengah jiwa karena separuh dirinya telah mati dalam hubungan yang ia kira cinta.
Bukan karena pasangannya jahat. Bukan pula karena ia tak layak dicinta.
Tapi karena dalam diam, ia menyerahkan hidupnya sendiri demi mempertahankan cinta yang justru perlahan membunuh.
Dan tragisnya, ia menyebut itu: kesetiaan.
Kau Bisa Memilih, Tapi Takut Sendiri
Di titik ini, kau sadar. Tapi kau tak bisa lari. Bukan karena tak punya jalan keluar, tapi karena ketakutanmu pada sepi lebih besar dari pada keberanianmu untuk merdeka.
Kau mulai mempertanyakan keputusanmu, tetapi juga takut kehilangan.
Kau bertanya-tanya: jika aku pergi, siapa yang akan menggenggam tanganku?
Jika aku tidak lagi bersamanya, apa aku masih pantas dicintai?
Pertanyaan-pertanyaan itulah yang menahanmu, yang membuatmu memaafkan setiap batas yang dilewati.
Yang membuatmu terus mengorbankan mimpi dengan dalih "nanti juga keburu bersama".
Padahal kau tahu dirimu sendiri mulai menghilang. Ambisimu tak lagi sekuat dulu.
Energi hidupmu terkikis. Dan yang tersisa hanya kamu yang kosong, tapi tetap bertahan.
Cinta yang benar takkan membuatmu takut jadi dirimu.
Tapi cinta yang salah, akan membuatmu takut ditinggalkan karena kamu menjadi versi terbaikmu.
Simak juga: Belajar cinta sejati dari sayyidah Zainab binti Rasulullah
Karier yang Kau Bunuh dengan Tanganmu Sendiri
Mungkin kau adalah mahasiswa dengan segudang prestasi, dulu.
Atau kau pernah menjadi pemuda yang penuh semangat, ingin menjadi penulis, musisi, diplomat, guru, atau bahkan astronot.
Tapi hari ini, kau memilih menunda. Atau menyerah. Dengan alasan, “Aku ingin fokus dulu membangun hubungan.”
Padahal hubungan itu tidak pernah mendukung cita-citamu. Tidak pernah benar-benar percaya padamu.
Ia hanya ingin kau selalu di sana, bersamanya, setiap waktu.
Dan karena ingin membuktikan cinta, kau relakan semuanya: kuliahmu, tawaran beasiswa, peluang karier, bahkan harga dirimu.
Sampai akhirnya kau sadar, tak ada satu pun yang benar-benar kembali.
Tak ada impian yang bisa diulang. Tak ada umur yang bisa dicicil.
Yang tersisa hanya penyesalan dalam diam, bahwa cinta yang kau perjuangkan dulu ternyata bukan jembatan ke masa depan, tapi pintu ke dalam penjara.
Simak juga: Ini alasan wanita lain lebih cantik dari istrimu
Cinta Tak Harus Menghancurkan
Lalu apakah kita harus membenci cinta?
Tidak.
Cinta sejati justru adalah kekuatan. Cinta yang benar akan memberimu ruang untuk tumbuh.
Ia takkan menghalangimu mengejar mimpi, justru mendukungmu untuk menjadi versi terbaik dari dirimu.
Cinta sejati tidak pernah mengikat dengan rantai, tapi dengan kepercayaan.
Cinta sejati bukan yang membuatmu bertahan karena takut kehilangan, tapi yang membuatmu bertumbuh karena merasa disayangi tanpa syarat.
Jika cinta membuatmu kehilangan arah, kehilangan diri sendiri, kehilangan semangat, kehilangan cita-cita, maka itu bukan cinta.
Itu adalah ilusi. Dan ilusi, pada akhirnya, hanya akan membuatmu hidup dalam kelelahan batin.
Simak juga; Menyelami Cinta: Antara Harapan, Kekecewaan, dan Jalan Menuju-Nya
Kau Boleh Jatuh Cinta, Tapi Jangan Jatuh Lalu Hancur
Jangan pernah takut untuk jatuh cinta. Tapi jangan pula lupa menjaga dirimu saat menjalaninya.
Cinta bukan alasan untuk menghentikan langkahmu. Bukan dalih untuk mematikan semua mimpi dan ambisi.
Cinta bukan tempatmu bersembunyi dari dunia, tapi tempatmu kembali pulang setelah berjuang.
Jika seseorang benar-benar mencintaimu, ia akan senang melihatmu bersinar.
Ia akan mendorongmu untuk terus maju, bukan menarikmu agar tetap tinggal. Ia akan menjadi sandaran, bukan beban.
Dan jika orang yang kau cinta justru membuatmu kehilangan arah, mungkin sudah waktunya kau berhenti sejenak dan bertanya:
“Apakah ini cinta, atau hanya ketakutanku akan sendiri?”
Baca juga; Menikah demi bahagia? Siap-siap dihancurkan oleh harapanmu sendiri
Cinta Itu Indah, Jika Kau Tak Kehilangan Diri
Pada akhirnya, yang terpenting bukanlah siapa yang ada di sisimu, tapi apakah kau masih mengenali dirimu sendiri.
Jangan biarkan cinta membunuhmu.
Jangan izinkan hubungan apa pun menjadi alasan untukmu berhenti bermimpi.
Jangan korbankan kariermu, masa depanmu, atau keyakinanmu hanya karena ingin terlihat setia.
Setia yang sesungguhnya adalah ketika kalian bisa tumbuh bersama, saling menguatkan, dan tetap mencintai diri masing-masing dalam prosesnya.
Jika cinta membunuhmu maka lepaskan.
Jika cinta membuatmu lupa bagaimana caranya bermimpi maka tinggalkan.
Karena di ujung hari, kamu akan sadar: hidup ini terlalu singkat untuk menjalaninya sebagai bayangan dari seseorang yang tak pernah benar-benar mencintaimu sebagaimana seharusnya.
Simak juga; Waktu terbaik untuk bercinta
Hiduplah, Meski Tanpa Dia
Barangkali ada yang perlu kita ubah dalam cara kita mendefinisikan cinta.
Bukan sebagai akhir dari segalanya, bukan sebagai satu-satunya alasan untuk hidup.
Tapi sebagai energi. Sebagai kekuatan untuk terus berjalan.
Dan jika suatu saat kau harus memilih antara cinta dan masa depanmu, pilihlah masa depan.
Karena cinta yang sejati takkan memaksamu memilih. Ia akan mengiringimu, tidak membunuhmu.
“Cinta tidak seharusnya membuatmu kehilangan segalanya, terutama dirimu sendiri. Karena cinta yang sejati, justru akan membuatmu lebih hidup, bukan sebaliknya.”
Sebab cinta yang sejati bukanlah yang membuatmu hilang arah,
Tapi yang membuatmu terus bertumbuh meski dalam gelisah.
Posting Komentar