aNJDzqMa0Kj3po49qxTqapPaQ1OOt1CMotfJqXkz
Bookmark

Biografi Lengkap Muhammad Ali Ash-Shabuni dan Warisan Intelektual Sang Mufassir Kontemporer

Syeikh Muhammad Ali Ash-Shabuni Sang Mufassir Kontemporer

M uhammad Ali Ash-Shabuni adalah salah satu tokoh ulama besar dalam dunia tafsir modern. 

Namanya harum di kalangan akademisi dan praktisi ilmu-ilmu keislaman, khususnya dalam bidang tafsir Al-Qur'an dan hukum syari’ah. 

Beliau merupakan salah satu mufassir kontemporer paling produktif yang telah melahirkan karya-karya monumental yang menjadi rujukan di berbagai penjuru dunia, termasuk di pesantren-pesantren di Indonesia.

Profil Muhammad Ali Ash-Shabuni

Nama lengkapnya adalah Muhammad bin Ali bin Jamil Ash-Shabuni. 

Beliau lahir di Aleppo, Suriah, pada tahun 1928 M atau 1 Januari 1930 menurut beberapa catatan lain. 

Beliau tumbuh dalam lingkungan keluarga agamis. 

Ayahnya, Syekh Jamil Ali Ash-Shabuni, merupakan seorang ulama terkemuka di wilayah Aleppo. 

Dari sang ayah, Ash-Shabuni mendapatkan pendidikan dasar keagamaan, termasuk ilmu waris, bahasa Arab, dan dasar-dasar ilmu syariah.

Kecerdasan Ash-Shabuni telah terlihat sejak kecil. 

Beliau telah mampu menghafal Al-Qur'an di usia belia, sebuah prestasi yang membuatnya dikagumi oleh para ulama sekitarnya. 

Kemudian berguru kepada ulama-ulama besar Aleppo seperti Syekh Muhammad Najib Sirajuddin, Syekh Ahmad Al-Shama, dan Syekh Muhammad Said Al-Idibi.

Simak juga: Siapakah dua bayi yang lahir tidak menangis? 

Perjalanan Rihlah Ilmiah dari Suriah ke Al-Azhar

Setelah menyelesaikan pendidikan dasar, Syeikh Ash-Shabuni melanjutkan studinya ke Madrasah Al-Tijariyyah, lalu ke sekolah khusus Syariah, Khasrawiyya, di Aleppo. 

Di sana, beliau tidak hanya mempelajari ilmu-ilmu keislaman, tetapi juga mata pelajaran umum yang memperluas wawasannya.

Tahun 1949, lulus dari Khasrawiyya dan memperoleh beasiswa dari Kementerian Wakaf Suriah untuk melanjutkan studi di Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir. 

Di Al-Azhar, Syeikh Ash-Shabuni berhasil meraih gelar Lc (S1) dan melanjutkan ke jenjang Magister (S2) dengan fokus pada studi hukum Islam. 

Tesisnya di bidang perundang-undangan Islam menunjukkan kedalaman pemahaman dan analisisnya terhadap syariat.

Simak juga: Alasan Ilmiah dibalik lebih diunggulkan Imam Nawawi atas Imam Rafi'i

Karier Akademik dan Dedikasi terhadap Ilmu

Setelah menyelesaikan pendidikannya, beliau kembali ke Aleppo dan mengajar di sekolah menengah selama delapan tahun. 

Kemudian pindah ke Arab Saudi dan menjadi dosen tafsir dan ulumul Qur’an di Fakultas Syariah dan Dirasah Islamiyah, Universitas King Abdul Aziz, serta Universitas Ummul Qura di Makkah al-Mukarramah. 

Simak juga; Kenali aliran Wahabi, sejarah, doktrin, dan pengaruhnya

Beliau mengajar di dua universitas tersebut selama kurang lebih 28 tahun.

Syeikh Ash-Shabuni dikenal sebagai seorang profesor yang berdedikasi dan tidak terburu-buru dalam menulis. 

Beliau sangat mengutamakan kualitas, validitas, dan kedalaman analisis dalam setiap karya ilmiahnya. 

Menurut Syekh Abdullah al-Hayyat, khatib Masjidil Haram, Ash-Shabuni adalah ulama dengan disiplin ilmu yang luas dan pemikiran yang mendalam.

Gaya dan Metode Tafsir

Dalam menafsirkan Al-Qur'an, Syeikh Ash-Shabuni dikenal mampu memadukan antara tafsir bil ma’tsur (berbasis riwayat) dan tafsir bil ra’yi (berbasis akal). 

Ia mencantumkan pendapat para ulama salaf dan khalaf, lalu menyajikannya dengan ringkas dan mudah dipahami oleh pembaca. 

Hal ini ditegaskan oleh Syekh Muhammad Al-Ghazali, ketua jurusan dakwah dan ushuluddin Fakultas Syariah Makkah, yang menyebut Ash-Shabuni sebagai sosok mufasir yang mampu menjembatani antara kedalaman ilmu klasik dan kebutuhan kontemporer.

Simak juga: Kisah Ibnu Hajar menimba emas dari sumur zamzam

Karya-Karya Monumental

Syeikh Ali Ash-Shabuni termasuk ulama yang sangat produktif. 

Karya-karyanya mencakup tafsir, ilmu Al-Qur’an, hadis, fikih, hingga akidah. 

Beberapa karyanya yang sangat berpengaruh dan menjadi rujukan internasional adalah:

  1. Shafwah at-Tafasir
  2. Rawa’i al-Bayan fi Tafsir Ayat al-Ahkam
  3. At-Tibyan fi Ulum al-Qur’an
  4. Tafsir al-Wadhih al-Muyassar
  5. Qubs min al-Qur’an al-Karim: Dirasah Tahliliyah Muwassa’ah bi Alidaf wa Maqasid al-Suwar al-Karimah
  6. Min Kunuz al-Sunnah: Dirasat Adabiyyah wa Lughawiyyah min Hadits Syarif
  7. Al-Zawaj al-Islami al-Mubakkir Sa’adah wa Hasanah
  8. Mukhtasar Tafsir Ibn Katsir
  9. Mukhtasar Tafsir At-Thabari
  10. An-Nubuwwah wal Anbiya’
  11. Al-Mawarits Fi Al-Syari’ah Al-Islamiyyah ‘Ala Dhu’i Al-Kitab Wa Al-Sunnah
  12. Durratut Tafasir
  13. Syarh Riyadhus Shalihin
  14. Aqidatu Ahlis Sunnah fi Mizanis Syar’i
  15. Tanwiru Al-Adzhan Min Tafsir Ruh Al-Bayan

Karya-karya tersebut tidak hanya dipelajari di Timur Tengah, tetapi juga sangat akrab di kalangan pelajar Indonesia. 

Banyak pesantren dan perguruan tinggi Islam yang menjadikan buku-bukunya sebagai referensi utama dalam kajian tafsir dan ilmu syariah.

Simak juga; Idealkah ulama berpolitik? 

Peran Internasional dan Pengakuan Dunia

Selain mengajar, Syeikh Ash-Shabuni juga aktif dalam organisasi Islam internasional. 

Beliau menjadi penasihat di Dewan Riset Kajian Ilmiah mengenai Al-Qur'an dan Sunnah di bawah naungan Liga Muslim Dunia. 

Kiprah internasionalnya mendapat pengakuan luas.

Pada tahun 2007, dalam ajang bergengsi Dubai International Quran Award, Ash-Shabuni dinobatkan sebagai Personality of the Muslim World, penghargaan yang juga pernah diberikan kepada tokoh besar seperti Syekh Yusuf al-Qaradhawi.

Wafatnya Ulama Besar

Pada hari Jumat, 19 Maret 2021 atau 6 Sya’ban 1442 H, dunia Islam berduka. 

Muhammad Ali Ash-Shabuni wafat di kota Yalova, Turki. 

Kabar wafatnya membawa kesedihan mendalam di kalangan umat Islam, khususnya mereka yang selama ini menikmati buah pikir dan karya-karyanya.

Simak juga: Tanda-tanda kematian dari 100 hari hingga detik akhir

Warisan Keilmuan yang Abadi

Syeikh Ali Ash-Shabuni telah wafat, namun ilmunya terus hidup. Karya-karyanya tetap dibaca, dikaji, dan diajarkan. 

Ia meninggalkan warisan intelektual yang tak ternilai dalam bentuk tafsir dan penjelasan mendalam terhadap Al-Qur'an dan syariah Islam.

Lebih dari sekadar mufasir, Ash-Shabuni adalah simbol dari ketekunan, keilmuan yang mendalam, dan dedikasi tiada henti dalam menyebarkan cahaya ilmu ke seluruh penjuru dunia.

Kesimpulan

Syekh Muhammad Ali Ash-Shabuni bukan hanya seorang mufasir kontemporer, tetapi juga representasi dari ulama rabbani yang memperjuangkan ilmu dengan keikhlasan dan kesungguhan. 

Jejak hidup dan karya-karyanya memberikan inspirasi bagi generasi muda Islam untuk mencintai ilmu, menekuninya dengan serius, dan mewarisinya dengan penuh tanggung jawab.

Referensi:

(Disadur dari beberapa referensi akurat dan terpercaya) 


Posting Komentar

Posting Komentar