D alam kehidupan umat Islam, sering kali muncul fenomena-fenomena luar biasa yang tak dapat dijelaskan oleh logika manusia biasa.
Dari kemampuan luar biasa para nabi, kisah-kisah para wali, hingga praktik-praktik sihir yang menipu mata semuanya termasuk dalam satu istilah besar yang dikenal dalam ilmu aqidah Islam yaitu Khariqu al-‘Adah.
Apa sebenarnya Khariqu al-‘Adah itu? Dan bagaimana Islam membagi serta menyikapinya?
Artikel ini akan membahas secara lengkap empat jenis Khariqu al-‘Adah dalam perspektif Islam yakni Mu‘jizat, Karamah, Istidrāj, dan Sihir, berdasarkan penjelasan para ulama.
Artikel ini juga mengulas dampak serta cara membedakan keempatnya agar umat Islam tidak tertipu oleh fenomena yang sekilas tampak luar biasa, namun sesat di baliknya.
Simak juga: Kisah nyata serigala bisa berbicara masa Rasulullah
Apa Itu Khariqu al-‘Adah?
Secara bahasa, "khariqu al-‘ādah" berarti sesuatu yang menembus atau melampaui kebiasaan.
Artinya, ia adalah kejadian luar biasa yang terjadi di luar kemampuan dan hukum normal manusia.
Dalam konteks akidah Islam, istilah ini digunakan untuk menyebut segala bentuk peristiwa ajaib atau luar biasa, baik yang bersumber dari Allah Swt. maupun dari kekuatan selain-Nya.
Namun tidak semua Khariqu al-‘Adah adalah pertanda kebenaran.
Di sinilah pentingnya klasifikasi ulama, agar umat tidak salah menilai antara kebenaran dan tipuan.
Dalam kitab klasik Bughyah al-Mustarsyidīn dijelaskan bahwa:
خوارق العادة على أربعة أقسام : المعجزة المقرونة بدعوى النبوة المعجوز عن معارضتها الحاصلة بغير اكتساب وتعلم، والكرامة وهي ما تظهر على يد كامل المتابعة لنبيه من غير تعلم ومباشرة أعمال مخصوصة وتنقسم إلى ما هو إرهاص وهو ما يظهر على يد النبي قبل دعوى النبوة و ما هو معونة وهو ما يظهر على يد المؤمن الذي لم يفسق ولم يغتر به والإستدراج وهو ما يظهر على يد الفاسق المغتر والسحر وهو ما يحصل بتعلم ومباشرة سبب على يد فاسق أو كافر كالشعوذة وهي خفة اليد بالأعمال وحمل الحيات ولدغها له واللعب بالنار من غير تأثير والطلاسم والتعزيمات المحرمة واستخدام الجان وغير ذلك. بغية المسترشدين ص : ٢٩٨-٢٩٩
Khāriqu al-‘ādah, atau hal-hal yang melampaui kebiasaan manusia, terbagi ke dalam empat jenis.
Pertama adalah mu‘jizat, yaitu kejadian luar biasa yang disertai klaim kenabian, tidak dapat ditandingi oleh siapa pun, dan terjadi tanpa melalui usaha maupun pembelajaran.
Simak juga; Meluruskan pemahaman tentang peristiwa pembelahan dada Rasulullah
Kedua adalah karamah, yakni kejadian luar biasa yang tampak pada diri seseorang yang sempurna dalam mengikuti Nabi, tanpa melalui proses belajar ataupun pelaksanaan amalan khusus.
Karamah ini sendiri terbagi menjadi dua: irhāsh, yaitu sesuatu yang muncul pada diri seorang nabi sebelum ia menyatakan kenabiannya, dan ma‘ūnah, yakni pertolongan Allah yang tampak pada diri seorang mukmin yang tidak fasik dan tidak merasa tertipu oleh kejadian tersebut.
Ketiga adalah istidrāj, yakni kejadian luar biasa yang tampak pada diri orang fasik yang tertipu dan terpedaya dengannya; hal ini merupakan bentuk istidraj atau penyesatan bertahap dari Allah.
Keempat adalah sihir, yaitu kejadian luar biasa yang terjadi karena adanya proses pembelajaran dan pelaksanaan sebab-sebab tertentu oleh orang fasik atau kafir.
Termasuk dalam kategori sihir adalah syu‘dzah (ilusi atau sulap), seperti kecekatan tangan dalam melakukan trik-trik tertentu, kemampuan memegang dan membiarkan diri digigit ular, bermain dengan api tanpa terbakar, penggunaan thilasmāt (mantra atau simbol-simbol tertentu), ta‘zīmāt (jampi-jampi yang diharamkan), serta praktik memanfaatkan jin dan hal-hal sejenisnya.
Simak juga; Cek khadam via medsos dalam pandangan Islam
4 Klasifikasi Utama dari Khariqu al-‘Adah
Berikut ini adalah empat klasifikasi utama dari Khariqu al-‘Adah.
1. Mu‘jizat: Bukti Kenabian yang Tak Tertandingi
Mu‘jizat adalah kejadian luar biasa yang muncul pada diri seorang nabi, disertai klaim kenabian, dan mustahil ditandingi oleh manusia mana pun.
Mu‘jizat tidak dipelajari dan tidak pula bisa diusahakan oleh manusia biasa.
Contoh nyata dari mu‘jizat adalah dibelahnya laut oleh Nabi Musa a.s., turunnya Al-Qur'an kepada Nabi Muhammad saw., serta kemampuan Nabi Isa a.s. menyembuhkan orang buta dan menghidupkan orang mati atas izin Allah.
Baca juga; Kisah Ibnu Hajar menimba emas dari sumur zamzam
Karakteristik utama dari mu‘jizat
- Muncul seiring dengan klaim kenabian.
- Mustahil ditandingi manusia biasa.
- Terjadi tanpa pembelajaran atau latihan.
- Menjadi bukti atas kebenaran wahyu dan risalah.
Mu‘jizat menjadi bukti otentik bahwa seseorang benar-benar diutus oleh Allah sebagai nabi atau rasul.
Oleh karena itu, mu‘jizat bersifat eksklusif dan tidak diwariskan.
2. Karamah: Keistimewaan Para Wali yang Tunduk pada Syariat
Karamah adalah kejadian luar biasa yang terjadi pada diri seseorang yang saleh dan taat mengikuti ajaran Nabi, tanpa melalui pembelajaran atau latihan khusus.
Karamah hanya dianugerahkan kepada mereka yang benar-benar istiqamah dalam ketaatan dan bersih dari kesombongan serta tipu daya hawa nafsu.
Contoh karamah termasuk dalam kisah para wali yang berjalan di atas air, mengetahui sesuatu yang gaib, atau memperoleh makanan secara ajaib saat terdesak.
Namun karamah tidak bisa diminta, dan bukan pula tujuan dari ibadah.
Baca juga: Kenapa bayi menangis saat lahir?
Pembagian Karamah
Karamah terbagi menjadi dua:
1. Irhāsh: Kejadian luar biasa yang muncul pada diri calon nabi sebelum ia mengaku sebagai nabi.
Contohnya adalah peristiwa yang terjadi pada Nabi Muhammad SAW sebelum beliau menerima wahyu.
2. Ma‘ūnah: Pertolongan luar biasa dari Allah yang diberikan kepada orang mukmin biasa yang tidak fasik, untuk menguatkan keimanannya.
Ciri Khas Karamah
- Terjadi pada orang yang saleh dan taat.
- Tidak diperoleh dengan cara belajar atau usaha tertentu.
- Tidak dijadikan sebagai ajang pamer.
- Bertujuan untuk menguatkan iman dan membantu dalam kebaikan.
Perlu diingat, karamah tidak bertentangan dengan syariat.
Jika ada seseorang mengklaim memiliki karamah, namun perbuatannya bertentangan dengan ajaran Islam, maka kemungkinan besar itu adalah istidrāj atau bahkan sihir.
Baca juga; Kenapa nafsu identik dengan keburukan? Ini faktornya
3. Istidrāj: Tipuan Luar Biasa untuk Menyesatkan
Istidrāj adalah kejadian luar biasa yang muncul pada diri orang fasik atau pelaku dosa, yang membuatnya semakin lalai dan terpedaya.
Allah memberi mereka kemampuan tertentu bukan sebagai bentuk kemuliaan, tetapi sebagai bentuk penyesatan secara bertahap.
Dalam Al-Qur'an, Allah berfirman:
"Kami akan menarik mereka sedikit demi sedikit (ke arah kebinasaan) dari arah yang tidak mereka ketahui."
Contoh istidrāj dalam kehidupan sehari-hari, kita mungkin pernah melihat seseorang yang terang-terangan meninggalkan salat, tenggelam dalam praktik judi, atau bahkan melakukan korupsi besar-besaran.
Namun anehnya, hidup mereka tampak begitu mulus, rezeki terus mengalir deras, usahanya berkembang pesat, keluarganya harmonis, dan kesehatannya terjaga.
Dari luar, kehidupan mereka terlihat bahagia tanpa beban. Namun, justru di situlah letak bahayanya.
Kenikmatan-kenikmatan semacam ini bisa jadi bukan bentuk kasih sayang, melainkan bagian dari istidrāj—yakni pemberian duniawi yang justru menjauhkan seseorang dari Allah.
Dengan terus merasa nyaman dalam maksiat, mereka semakin lalai, tak pernah bertaubat, dan merasa tak membutuhkan Allah.
Padahal, semua itu adalah ujian terselubung yang bisa membawa mereka kepada kebinasaan yang tak terasa.
Simak juga: Terjerumus maksiat, pilihan atau takdir?
Tanda-Tanda Istidrāj
- Terjadi pada orang fasik atau pelaku maksiat.
- Menjadikan pelakunya semakin sombong dan jauh dari agama.
- Tidak mendekatkan pada ketaatan.
- Membuat masyarakat tertipu dan terpesona.
Istidrāj sangat berbahaya karena sering disalahpahami sebagai karamah.
Oleh karena itu, penting bagi umat untuk melihat siapa pelakunya dan bagaimana hubungan dia dengan syariat.
4. Sihir: Keajaiban Palsu dari Jalan yang Haram
Sihir adalah kejadian luar biasa yang diperoleh melalui pembelajaran, latihan, atau perjanjian dengan jin.
Biasanya dilakukan oleh orang fasik atau kafir dan dilakukan melalui cara-cara yang diharamkan.
Sihir mencakup:
1. Syu‘dzah (tipuan tangan), seperti trik sulap, mengeluarkan benda dari tempat tak terlihat.
Memegang dan bermain dengan ular atau api, tanpa terluka dam semuanya ada hubungannya dengan makhluk halus bukan semata-mata trik.
2. Thilasmāt (mantra-mantra tertentu), seperti simbol-simbol magis.
3. Ta‘zīmāt (jampi-jampi terlarang).
4. Menggunakan bantuan jin atau makhluk halus.
Sihir bisa menipu pandangan manusia, mempengaruhi pikiran, dan bahkan merusak rumah tangga.
Dalam Islam, sihir termasuk dosa besar dan pelakunya bisa keluar dari Islam jika sampai menyekutukan Allah.
Allah Swt. berfirman:
"Dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh setan-setan pada masa kerajaan Sulaiman... padahal Sulaiman tidak kafir, tetapi setan-setan itulah yang kafir. Mereka mengajarkan sihir kepada manusia..."
Baca juga: 15 jenis dosa besar dan efek nyata bagi pelakunya
Bagaimana Membedakan Mu‘jizat, Karamah, Istidrāj, dan Sihir?
Untuk membedakan antara mu‘jizat, karamah, istidrāj, dan sihir, seorang Muslim harus memahami karakteristik khas dari masing-masing jenis khāriqu al-‘ādah (kejadian luar biasa).
Siapa Pelakunya
Pembeda pertama yang sangat penting adalah dari siapa kejadian luar biasa itu muncul.
Mu‘jizat hanya diberikan kepada para nabi sebagai bukti kenabian mereka.
Kejadian ini tidak mungkin ditiru oleh siapa pun, tidak bisa dipelajari, dan selalu selaras dengan syariat.
Sebaliknya, karamah terjadi pada orang-orang saleh yang taat dan istiqamah dalam mengikuti Nabi.
Ia bukan hasil belajar atau usaha khusus, melainkan karunia dari Allah sebagai bentuk pertolongan untuk meneguhkan iman atau menyelamatkan dari kesulitan.
Sementara itu, istidrāj muncul pada orang-orang fasik yang jauh dari agama.
Meskipun tampak luar biasa, istidrāj sejatinya adalah bentuk penyesatan bertahap dari Allah, yang menjadikan pelakunya semakin terpedaya dan sombong. Ia bukanlah anugerah, tetapi jebakan.
Yang lebih parah lagi adalah sihir, yang dilakukan oleh orang fasik atau kafir dengan cara-cara yang diharamkan, seperti mempelajari mantra, membuat perjanjian dengan jin, atau melakukan praktik ritual tertentu.
Sihir biasanya dipelajari secara sistematis dan dilakukan dengan niat untuk menipu, menaklukkan, atau menyakiti.
Sisi Tujuannya
Dari sisi tujuan, mu‘jizat bertujuan untuk membuktikan kebenaran risalah nabi, sedangkan karamah bertujuan membantu dalam kebaikan.
Berbeda dengan istidrāj yang justru menyesatkan pelakunya, dan sihir yang digunakan untuk mencelakai atau memikat manusia dengan cara yang bathil.
Sisi Memperolehnya
Dari sisi cara memperolehnya, mu‘jizat dan karamah murni pemberian dari Allah, tanpa usaha manusiawi.
Adapun istidrāj juga diberikan oleh Allah, namun sebagai bentuk istidraj (penyesatan).
Sedangkan sihir diperoleh melalui belajar dan praktik khusus, serta melibatkan kekuatan ghaib dari jalan yang haram.
Dari semua itu, ukuran utamanya tetaplah syariat Islam. Jika sebuah kejadian luar biasa sesuai dengan ajaran Islam, dilakukan oleh orang yang bertakwa dan tidak menyalahi akidah, maka itu bisa jadi karamah.
Namun jika dilakukan oleh orang yang jauh dari agama, meski tampak hebat, besar kemungkinan itu adalah istidrāj atau sihir.
Maka, seorang Muslim harus tidak hanya takjub dengan keajaiban, tapi juga kritis terhadap siapa pelakunya, tujuannya, dan apakah sesuai dengan syariat atau tidak.
Baca juga: 8 hal menarik tapi palsu
Pentingnya Memahami Khariqu al-‘Adah
Mengapa penting memahami pembagian ini? Karena banyak orang tertipu oleh fenomena luar biasa.
Ada yang menganggap tukang sihir sebagai wali, atau meyakini kemukjizatan seseorang hanya karena ia bisa menyembuhkan penyakit, padahal ia adalah pelaku maksiat.
Dalam dunia yang penuh tipu daya ini, tidak cukup hanya melihat keajaiban, tapi juga harus melihat siapa yang melakukannya, bagaimana akidahnya, bagaimana amalnya, dan bagaimana ia memandang syariat Islam.
Kesimpulan
Khariqu al-‘Adah adalah istilah penting dalam Islam yang membedakan berbagai bentuk kejadian luar biasa.
Islam tidak menafikan adanya keajaiban, namun Islam mengajarkan kita untuk kritis dan tidak mudah terkecoh.
Ada mu‘jizat yang menjadi bukti kenabian, karamah yang memperkuat keimanan, tapi juga ada istidrāj dan sihir yang menyesatkan.
Umat Islam perlu memperkuat ilmu, terutama dalam hal akidah, agar bisa membedakan mana yang benar dan mana yang batil.
Dengan pemahaman yang baik tentang Khariqu al-‘Adah, kita bisa menjaga iman, tidak tertipu oleh penampilan luar, dan tetap teguh dalam mengikuti syariat.
Ingatlah, tidak semua yang luar biasa berasal dari Allah dengan maksud memuliakan.
Bisa jadi, itu adalah bentuk ujian atau bahkan hukuman yang tersembunyi.
Dengan memahami pembagian ini, semoga kita semua bisa semakin hati-hati dan waspada terhadap segala bentuk kejadian luar biasa yang terjadi di sekitar kita.
Posting Komentar