![]() |
| Mahar yang tinggi berpengaruh pada angka pernikahan di Aceh yang berpatokan pada emas murni |
Oleh: Tgk. Wandi Saputra, S.Ag (Alumni Mahad Aly Raudhatul Maarif Cot Trueng)
J udul ini terdengar seperti lelucon, tetapi sebenarnya merupakan sindiran atas realita yang sedang terjadi.
Penulis pun tertawa sewaktu menulis artikel ini. Sebab, realita kehidupan sekarang yang sedikit lucu, bahkan sangat lucu.
Kenapa penulis berani mengatakan mahar pernikahan orang Aceh ditentukan oleh Presiden AS?
Ya, karena mahar pernikahan orang Aceh secara adat masih tertumpu pada logam mulia yang bernama emas.
Sedangkan harga emas itu sendiri dipengaruhi oleh kebijakan ekonomi negara besar seperti Amerika Serikat.
Sudah pasti, Donald J. Trump pengambil kebijakan tertinggi perihal ekonomi negara Amerika Serikat.
Baca juga: Ketika mahar menjadi beban, bagaimanakah cara bersikap?
Harga emas sekarang tidak lagi ditentukan oleh Inflasi, suku bunga, dan geopolitik saja. Tapi Mood Trump menjadi salah satu indikator yang mengatur harga emas dunia saat ini.
Di saat Donald Trump marah, dan ingin mencaplok Grandland, hingga ancaman tarif di berbagai negara Eropa yang menentang kebijakannya, maka marah Trump berefek kepada kenaikan harga emas.
Sebaliknya, di saat kesepakatan Trump dan Eropa tercapai atas kasus Grandland, serta pencabutan kenaikan tarif beberapa negara Eropa, harga emas-pun ikut turun.
Singkatnya, di era ini, mungkin era mendatang, emas bukan lagi safe haven, melainkan lebih mengarah alat ukur emosi Trump dan penguasa-penguasa dunia.
Trump marah emas naik. Trump santai, emas turun. Trump cuit sembarangan, analis langsung merevisi proyeksi.
Bukan berarti Donald Trump ikut terlibat langsung dalam menetapkan mahar pernikahan di Aceh, melainkan gambaran bagaimana kebijakan global seperti penguatan dolar, kebijakan pemerintah negeri Paman Sam, berdampak hingga ke ruang paling pribadi yakni rencana pernikahan.
Oleh karena itu tidak dapat dipungkiri, mahar pernikahan di Aceh sekarang tidak lagi semata-mata ditentukan oleh adat dan kemampuan calon pengantin, melainkan oleh pergerakan harga emas di pasar global.
Ketika harga emas naik, otomatis harga yang dibayar untuk mahar-pun ikut melonjak.
Simak juga: Menikah bisa melancarkan rezeki, kok faktanya berbalik?
Memang emas yang menjadi mahar atau jeulamee sebagai simbol tanggung jawab dan penghormatan kepada perempuan.
Namun, Islam juga menganjurkan agar mahar tidak memberatkan pihak lelaki.
Namun praktiknya, emas yang nilainya sekarang bergantung atas kebijakan AS dijadikan patokan utama, sementara kehidupan masyarakat sehari-hari diukur dengan rupiah.
Ketidakseimbangan ini membuat banyak laki-laki kesulitan memenuhi tuntutan mahar, meskipun mereka siap secara mental dan tanggung jawab.
Ketika dolar menguat, emas naik, dan pernikahan pun tertunda.
Akibatnya, pernikahan yang seharusnya dimudahkan justru terasa semakin berat, sehingga mahar berubah dari simbol ibadah menjadi beban ekonomi.
Simak juga: Cara membedakan ujian dan azab dalam ekonomi rumah tangga
Sudah saatnya kita bersama MAA (Majlis Adat Aceh) meninjau kembali praktik ini, agar mahar dikembalikan pada maknanya yang sejati yaitu sederhana, manusiawi, dan sesuai kemampuan, bukan ditentukan oleh fluktuasi ekonomi global.
Pemerintah Aceh juga harus turut ambil adil dalam menyikapi perkara ini. Sebab menurut data BPS, angka pernikahan di Aceh semakin merosot.
"ADAT YANG BAIK ADALAH ADAT YANG RELEVAN DENGAN ZAMAN SERTA TIDAK BERTENTANGAN DENGAN SYARIAT"



1 komentar